Thursday , 24 April 2014
Breaking News

Bunyi-bunyi konsonan




Bunyi-bunyi konsonan dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.

1. Bilabial, yaitu konsonan yang terjadi oleh gerakan kedua belah bibir, bibir bawah merapat pada bibir atas. Konsonan yang  termasuk bilabial ini adalah bunyi /b/, /p/, dan /m/. Bunyi /p/ dan /b/ merupakan bunyi oral, yaitu yang dikeluarkan melalui rongga mulut. Adapun /m/ adalah bunyi nasal, yakni bunyi yang dikeluarkan melalui rongga hidung. Praktikkanlah konsonan dalam kata-kata asam, asap, adab.

2. Labiodental, yakni konsonan yang terjadi pada gigi bawah dan bibir atas; gigi bawah merapat pada bibir atas. Konsonan yang termasuk labiodental adalah bunyi/f/ dan /v/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata sifat, dan televisi.

3. Laminoalveolar, yaitu konsonan yang terjadi pada daun lidah dan gusi; Posisi daun lidah menempel pada gusi. Konsonan yang termasuk laminoalveolar adalah bunyi /t/ dan /d/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata tekad dan dekat.

4. Dorsovelar, yakni konsonan yang terjadi pada pangkal lidah dan langit-langit lunak. Konsonan yang termasuk dorsovelar adalah bunyi /k/ dan /g/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata kaku dan gagu.

Selanjutnya, berdasarkan cara artikulasinya atau hambatan terhadap arus udara, konsonan dapat dibedakan sebagai berikut.

1. Hambat (letupan), terjadi jika artikulator menutup sepenuhnya aliran udara sehingga udara terhambat di belakang tempat penutupan itu. Kemudian, penutupan itu dibuka tiba-tiba dan menyebabkan terjadinya letupan. Konsonan letupan, antara lain bunyi /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, dan /g/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata siap, kirab, adat, abad, sepak, dialog.

2. Geseran, terjadi jika artikulator membentuk celah sempit sehingga udara yang melaluinya mendapat gangguan. Konsonan yang termasuk geseran antara lain bunyi /f/, /s/, dan /z/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata fasih, usus, zat.

3. Paditan, terjadi jika artikulator aktif menghambat sepenuhnya aliran udara, lalu membentuk celah sempit. Adapun konsonan yang termasuk paditan, antara lain bunyi /c/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata cacat, kaca, cara.

4. Sengauan atau nasal, terjadi jika artikulator menghambat sepenuhnya aliran udara melalui mulut, tetapi membiarkannya keluar melalui rongga hidung dengan bebas. Contoh konsonan nasal adalah bunyi /m/, /n/, dan /├▒/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata kusam, makan, menyendiri.

5. Getaran atau trill, terjadi jika artikulator melakukan kontak beruntun sehingga getaran bunyi itu terjadi berulang-ulang. Contohnya adalah konsonan /r/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata rusak, barak, bakar, transaksi

6. Sampingan atau lateral, terjadi jika artikulator menghambat aliran udara pada bagian tengah mulut, lalu membiarkan udara keluar melalui samping lidah. Contohnya adalah konsonan /l/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam kata-kata lilin, siul

7. Hampiran atau aproksiman, terjadi jika artikulator membentuk ruang yang mendekati posisi terbuka seperti dalam pembentukan vokal, tetapi tidak cukup sempit untuk menghasilkan konsonan geseran. Oleh karena itu, bunyi yang dihasilkan sering juga disebut semivokal. Di sini hanya ada dua buah bunyi, yaitu /w/ dan /y/. Praktikkanlah konsonan tersebut dalam katakata wahyu, yoyo, bawa! Di dalam bahasa Indonesia, banyak terdapat serapan dari bahasa lain. Unsur-unsur yang diserap

dapat berupa fonem maupun kata, misalnya:

central sentral atau /sentral/

rakyat rakyat atau /ra?yat/

congres kongres atau /kores/